Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Agustus 2011

SURAT DARI TUHAN

SURAT DARI TUHAN


Saat kau bangun di pagi
hari, AKU memandangmu dan berharap engkau akan
berbicara
kepada-KU, walaupun hanya sepatah kata meminta
pendapat-KU
atau bersyukur kepada-KU atas sesuatu hal yang indah
yang terjadi
dalam hidupmu hari ini atau kemarin.......

Bagian Tubuh yang paling berarti

Bagian Tubuh yang Paling Berarti....
Ibuku selalu bertanya padaku apa bagian tubuh yang paling
penting.Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku
anggap benar.

SIAPA YG TAHU MAKSUD ALLAH

Rasulullah pada suatu waktu pernah berkisah. Pada zaman sebelum kalian, pernah ada seorang raja yang amat dzalim.Hampir setiap orang pernah merasakan kezalimannya itu.

Puasa Tingkat Ketiga

Cobalah Anda amati perasaan, perilaku, dan kebiasaan Anda sehari-hari. Tahukah Anda apa yang mengatur semua itu? Kalau Anda merenungkannya dengan cermat, Anda akan menemukan bahwa keseluruhan program mengenai diri kita berada di dalam kepala Anda. Inilah yang disebut pikiran.

Pikiranlah yang mengatur perasaan, tindakan, kebiasaan, dan akhirnya nasib kita. Pikiranlah yang menentukan apakah kita senang atau susah, sedih atau bahagia, serta sehat atau sakit. Semua yang kita rasakan sumbernya adalah pikiran. Karena itu untuk melakukan perubahan menyeluruh terhadap kehidupan kita, satu-satunya hal yang harus diubah adalah pikiran. Namun seperti halnya komputer, pikiran kita juga sering terserang virus-virus berbahaya yang merusak.

Salah satu sarana untuk membersihkan pikiran kita dari virus-virus tersebut adalah berpuasa. Karena itu makna puasa yang sesungguhnya adalah mengendalikan pikiran Anda. Inilah yang saya sebut ''Puasa Tingkat Ketiga.''

Adapun puasa tingkat pertama adalah puasa secara fisik. Ini hanya menjaga apa yang masuk ke dalam mulut Anda. Puasa tingkat kedua adalah puasa secara sosial/emosional. Ini berkaitan dengan perilaku kita kepada orang lain, terutama menjaga apa yang keluar dari mulut (ucapan kita).

Apa yang masuk ke dalam mulut amat perlu kita jaga, karena inilah sumber penyakit. Kita menjaga agar tak makan makanan yang beracun, yang tak higienis, maupun yang berkolesterol tinggi. Namun sayangnya, kita sering mengabaikan ''makanan-makanan'' yang masuk ke dalam kepala kita.

''Makanan-makanan'' itu sebenarnya tak kalah beracunnya, sangat berbahaya dan mengandung virus yang mematikan. Hakikat puasa tingkat ketiga adalah menjaga pikiran dari virus-virus yang berbahaya. Ini adalah puasa secara mental, yang merupakan prasyarat puasa tingkat empat, yang intinya adalah merasakan kedekatan Tuhan. Inilah tingkatan puasa yang tertinggi yaitu secara spiritual.

Untuk mengubah diri kita, paling tidak kita harus mencapai puasa tingkat ketiga ini. Caranya adalah dengan memilih secara sadar ''makanan-makanan'' apa yang boleh dikonsumsi pikiran kita. Kita harus sangat berhati-hati karena banyak sekali hal di sekitar kita yang dapat menjadi virus yang berbahaya.

Coba perhatikan, berapa lama Anda menonton televisi setiap hari? Jangan lupa, banyak acara-acara TV sekarang ini berisikan virus-virus yang sangat berbahaya: telenovela, sinetron, film dan acara gosip para selebritis kita yang ada di hampir seluruh stasiun TV. Temanya berkisar pada hal-hal yang itu-itu saja: perkelahian antarartis, perceraian, perselingkuhan, dan seterusnya.

Bosan dengan acara gosip, Anda melihat berita dan menyaksikan perkelahian para politisi kita. Selain dari media massa, pikiran Anda juga bisa tercemar melalui lingkungan pergaulan, tindakan orang yang menyakiti kita, maupun peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu. Racun pikiran kita inilah yang akan menentukan perasaan kita. Apakah Anda merasa bahagia, senang, dan susah, sebenarnya hanyalah merupakan konsekuensi dari apa yang masuk ke pikiran Anda.

Esensi berpuasa adalah menciptakan ''gembok'' untuk mengunci pikiran. Berpuasa berarti kitalah yang memegang kunci gembok tersebut, dan tak menyerahkannya kepada orang lain. Ini sebenarnya merupakan hakikat kepemimpinan. Seperti halnya komputer, otak kita juga mempunyai rumus GIGO (Garbage In Garbage Out). Maksudnya, kalau pikiran kita mengkonsumsi sampah, maka yang akan dihasilkan juga sampah. Ada pepatah yang mengatakan, ''Pikiran yang picik membicarakan orang. Pikiran biasa membicarakan kejadian. Tetapi pikiran yang besar membicarakan gagasan.'' Inilah pikiran-pikiran yang bersih dan belum teracuni virus dan sampah.

Lantas bagaimana dengan hal-hal yang tak dapat kita kontrol, misalnya perilaku dan ucapan orang lain yang menyakiti hati Anda? Kalau itu terjadi pada Anda, berapa jam waktu yang Anda gunakan untuk memikirkan perilaku orang tersebut? Padahal, semakin Anda terserap ke dalam detil tentang apa-apa yang membuat Anda marah, semakin tak enak pikiran Anda. Inilah efek bola salju pikiran.

Jangan lupa, walaupun kita tak dapat mengontrol perilaku orang lain, kita senantiasa dapat mengontrol pikiran kita. Saat ini saya sedang mempraktekkan tiga kalimat penting untuk selalu menyehatkan pikiran kita.

Pertama, Subhanallah (Maha Suci Allah). Ini berarti hanya Tuhanlah yang Maha Sempurna. Memahami kalimat ini akan membuat kita mudah memaafkan kelalaian orang lain dan diri sendiri.

Kedua, Alhamdulillah (Segala Puji Bagi Allah). Memahami kalimat ini akan membuat kita senantiasa bersyukur menghadapi situasi apapun. Kesuksesan tidaklah membuat kita takabur, sebaliknya kegagalan tidaklah membuat kita putus asa.

Ketiga, Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Memahami kalimat ini secara mendalam akan menyadarkan kita bahwa semua hal yang kita lakukan, bahkan kita pertengkarkan sehari-hari, adalah masalah kecil. Kitalah yang sering merusak pikiran kita dengan membesar-besarkan masalah yang sebenarnya kecil.

HARUSKAH CINTA DI UJI

Haruskah CINTA kita di UJI ?
Bagaimana kita tahu bahwa cinta kepada ALLAH cukup dalam sedalam samudra sebagaimana sering kita ungkapkan bahwa cinta sejati hanyalah milik ALLAH, Cinta kita kepada ALLAH adalah dalam rangka untuk mengantarkan kita ke arah perbaikan pribadi, berdampingan dengan TUHAN, menuju kepada kesetiaan yang sempurna dengan menjalankan segala perintah-NYA dan menjauhi segala larangan-NYA ? Bagaimana kita dapat begitu yakin bahwa cinta kita ini cukup matang untuk diberikan kepada ALLAH sedangkan hari-hari kita selalu mlanggar janji kita kepada-NYA ? maka, cinta kita memang harus di uji ? untuk apa ? untuk mengetahui SEJATI tidaknya cinta kita kepada-NYA. Cinta sejati ingin merasakan mesranya selalu bersama - NYA, kemudian memberikan yang terbaik untuk agama-NYA. Cinta sejati yang selalu memikirkan ummat sebagaimana RAsulullah SAW, bukan memikirkan diri sendiri dan golongan sendiri. Jika Kamu mendapatkan sesuatu nikmat dari - NYA, apa saja, pernahkah kamu berpikir bahwa kamu ingin membagi nikmat itu bersama hamba-hamba-NYA yang tiada berpunya ? Jika kamu merencanakan sesuatu, adakah kamu hanya berpikir tentang apa yang ingin kamu lakukan, ataukah apa yang akan menyenangkan pihak lain? Sebagaimana Herman Oeser, seorang penulis Jerman pernah mengatakan, "Mereka yang ingin bahagia sendiri,janganlah kawin. Karena yang penting dalam perkawinan ialah membuat pihak yang lain bahagia. - mereka yang ingin dimengerti pihak yang lain, janganlah kawin. Karena yang penting di sini ialah mengerti pasangannya." Maka ujian terhadap cinta yang selalu kita dengungkan itu harus ada, cinta kepada siapapun terlebih kepada-NYA,Pertanyaan pertama yang perlu kita renungkan agar kita dapat merasakan manisnya cinta kita tersebut adalah : "Apakah kita bisa sama-sama merasakan sesuatu? Apakah aku ingin menjadi bahagia atau membuat saudara kita yang lain bahagia?"

Ujian terhadap cinta adalah ujian keteguhannya. Di dalam Postingan Myquran kita begitu banyak menemukan saudara-saudara kita yang risau dengan cintanya, cinta telah membuat mereka berat.Padahal Cinta akan memenuhi hati kita dengan perasaan gembira dan suka cita serta membuat kita kreatif, dan ingin menghasilkan lebih banyak lagi.Pertanyaan kedua yang perlu di renungkan : " Apakah cinta kita memberi kekuatan baru dan memenuhi kita dengan tenaga kreatif, ataukah cinta kita justru menghilangkan kekuatan dan tenaga kita, Cinta membuat kita risau, pusing, stress?"

Untuk menguji cinta selanjutnya kita perlu menghargai CINTA itu sendiri. Cinta sejati berarti juga menjunjung tinggi orang yang lain. Seorang gadis mungkin mengagumi seorang jejaka, ketika ia melihatnya bermain bola dan mencetak banyak gol. Tapi jika ia bertanya pada diri sendiri, "apakah aku mengingini dia sebagai ayah dari anak-anakku?", jawabnya sering sekali menjadi negatif. Seorang pemuda mungkin mengagumi seorang gadis, yang dilihatnya sedang berdansa. Tapi sewaktu ia bertanya pada diri sendiri, "apakah aku mengingini dia sebagai ibu dari anak-anakku?", gadis tadi mungkin akan berubah dalam pandangannya. Pertanyaan yang untuk kita renungkan kembali adalah : "Apakah kita benar-benar sudah punya penghargaan yang tinggi satu kepada yang lainnya? Apa aku bangga atas pasanganku?"

Kemudian Pertengkaran adalah bentuk ujian terhadap cinta. Bilamana sepasang Ikhwan dan AKhwat selesai berta'aruf kemudian berkomitmen untuk menikah,Satu pertanyaan yang perlu kita lontarkan untuk mereka adalah " Apakah mereka akan hidup tanpa ada pertengkaran,tanpa perbedaan pendapat yang kecil, betapa tawarnya cinta tanpa pertengkaran sebagai bumbu cinta, setelah itu saling memaafkan dan mengalah.Tanyakanlah wahai Para Pecinta : " Apakah cinta kita telah melewati musim panas dan musim dingin ? Sudah cukup lamakah kita saling mengenal ?" Dan izinkan Penyair Musafir ini sebuah petuah " Bahwa Cinta bukanlah urusan Jasmaniah melainkan Ruhaniah, dan untuk merasakan kelezatannya kita harus menguji cinta kita tersebut, cinta kepada siapapun terlebih cinta kita kepada-NYA.

Copy Paste di Hatimu

Jika kamu

Jika kamu memancing ikan....
setelah ikan itu terlekat di mata kail, hendaklah kamu mengambil ikan itu...
Janganlah sesekali kamu lepaskan ia semula ke dalam air begitu saja....
Karena ia akan sakit oleh karena bisanya ketajaman mata kailmu dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup.

Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang...
Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya...
Janganlah sesekali kamu meninggalkanya begitu saja...
Karena ia akan terluka oleh kenangan bersamamu, dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya selagi dia mengingatmu...

Jika kamu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu berharap pada takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh... cukuplah sekedar keperluanmu..
Apabila sekali ia retak... tentu sukar bagimu untuk menambalnya semula. Akhirnya ia dibuang...
Sedangkan jika kamu coba membalikkanya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi

Begitu pula jika kamu mempunyai seseorang , terimalah apa adanya..
Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya begitu istimewa...
Anggaplah ia manusia biasa.
Apabila ia sekali melakukan kesilapan bukan mudah bagi kamu untuk menerimanya...
akhirnya kamu kecewa dan meninggalkanya...
Sedangkan jika kamu memaafkanya boleh jadi hubungan kamu akan terus hingga ke akhirnya...

Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi...
yang pasti baik untuk dirimu, mengenyangkan, berkhasiat.
Mengapa kamu berlengah, mencoba mencari makanan yang lain...
Terlalu ingin mengejar kelezatan.
Kelak nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya
kamu akan menyesal.

Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seseorang insan... yang kamu pasti membawa kebaikan kepada dirimu. Menyayangimu. Mengasihimu
Mengapa kamu berlengah, coba membandingkanya dengan yang lain.
Terlalu mengejar kesempurnaan.
Kelak kamu akan kehilanganya apabila ia menjadi milik orang lain.
kamu juga yang akan menyesal

Jika kamu baca thread ini...
copy dan pastekan dalam hatimu, dalam pikiranmu dan forward ke teman2 mu

dari majalah dinding masjid dekat kantor
__________________
Dekati pahala, ..... Jauhi dosa

BURUNG GAGAK ITU NAMAKU

Aku adalah seekor gagak, kata orang rupaku jelek mungkin mereka hanya melihat penampilanku saja. Memang ku sedikit kuakui bulu-buluku hitam bahkan sampai badanku juga. Tapi kadang aku merasa aneh terhadap mereka yang mengatakan aku jelek padahal sebenarnya aku tidaklah begitu jelek. Aku pikir aku standar kok dengan kebanyakan burung gagak yang lain tapi toh kenapa mereka masih mengatakan aku jelek. “Cap’ yang mereka berikan kepadaku sebenarnya membuatkan down dalam menjalani hidup ini. Akibatnya sering terpikir olehku bisakah diri ini mencintai burung gagak betina yang aku cintai, akankah dia menerimaku dengan keadaanku seperti ini yang katanya aku jelek. Ah mereka selalu membuatku seperti ini, kenapa sih mereka selalu mengatakan aku jelek.

Hari ini aku akan mencoba bertanya kepada sahabat-sahabatku selain manusia karena manusia hanya melihat penampilanku saja tidak melihat dari sisi yang lainnya. Aku akan mulai bertanya kepada sahabat setiaku sang pohon nangka yang dahannya selalu aku hinggapi setiap pagi saat aku tatap mentari.

“Assalamu’alikum, pohon nangka yang baik,” sapaku pagi itu”. “Wa’alikum salam, sahabatku burung gagak yang gagah,” jawabnya dengan senyum khasnya. “Aku lihat wajahmu begitu muram, ada apakah gerangan apakah engkau sedang mempunyai masalah yang berat wahai sahabatku,” lanjut pohon nangka sambil menatapku heran.
“Begitulah sahabatku pohon nangka, hari ini aku begitu bingung dan agak down, aku juga belum menemukan solusinya sampai sekarang, aku bingung banget,” jawabku sambil kutatap sahabatku itu yang kulihat selalu tegap dan hidupnya penuh optimis.
“Mungkin aku bisa membantumu mencarikan jalan keluarnya,” jawabnya menawarkan diri. “Aku kan sahabatpun sejak engkau kecil, bahkan aku rela engkau selalu hinggap di dahanku ini walau kadang aku merasa pegal, beritahukanlah kepdaku dan mari kita carikan jalan keluarnya,” selanya meyakinkan aku yang dari tadi hanya termenung dengan tatapan kosong.

Aku terdiam, sebenarnya aku ingin mengungkapkan masalah ini padanya tapi aku begitu takut. Aku takut sahabatku itu akan mengatakan hal yang sama seperti manusia kebanyakan. “Sahabatku, mengapa engkau diam, tidakkah engkau mau membeitahukan masalahmu padaku?” tanyanya lagi. “Ah tidak sahabatku aku hanya takut engkau akan mengatakan hal yang sama seperti manusia mengenai diriku,” jawabku sedikit kaget. “Percayalah sahabatku, aku akan memberikan yang terbaik buatmu,”jawabnya meyakinkan.

Kutatap sahabatku itu sehingga keraguan yang sempat muncul hilang lalu aku pun menceritakan masalah yang sedang aku hadapi saat ini. “Bagaimana menurutmu wahai sahabatku pohon nangka, apakah yang manusia katakan kepadaku itu benar adanya?” tanyaku kemudian. Kulihat sahabatku itu terdiam entah apa yang sedang dipikirkannya sesekali dia melihat dan menatapku seolah-olah sedang memperhatikan seluruh tubuhku.
“Sebenarnya memang engkau hitam tapi tidak jelek karena memang Allah menciptkaanmu seperti itu, aku yakin ini semua ada maksudnya. Aku yakin Allah menciptakan mahluknya dengan sesempurna mungkin hanya saja kadangkala kita tidak mau menerimanya ketika dihadapkan pada keadaan seperti sekarang ini,” jawabnya dengan penuh perhatian. “Engkau jangan berpikir dangkal, biarkanlah mereka mengatakan engkau jelek, tapi yakinlah bahwa dibalik itu semua ada sebuah pelajaran yang sangat berharga.” Jawabnya lagi sambil memegang pundakku yang dari tadi hanya diam.

“Tapi karena ucapan itu membuat aku down bahkan aku tidak bergairah hidup, kamu kan tahu aku begitu perasaan dalam hal ini,” selaku tidak terima. “Aku mengerti perasaanmu, tapi jika engkau seperti ini terus engkau malah akan tersiksa dengan perasaanmu sendiri, saranku biarkanlah dan balaslah mereka dengan perbuatan yang baik niscaya engkau akan disukai mereka. Aku yakin walaupun engkau dikatakan jelek tapi hatimu baik itu lebih utama ketimbang wajahmu bagus tapi hati kamu kotor seperti lumpur.” Jawabnya lagi.

Kali ini aku merasa agak sedikit terhibur.
“Tapi sahabatku, aku sering sekali ingin mencintai wanita yang aku cintai tapi mereka tidak menerimaku, bukankah itu karena wajahku.” Tanyaku kembali.
“Mungkin iya, mungkin tidak.” Jawabnya. “Maksudmu?” tanyaku bingung.
“Begini sahabatku, mungkin iya, karena tidak semua wanita mau mempunyai pendampingnya yang jelek, dengan mempunyai pendamping yang gagah dan cakep mereka akan merasa bangga dan tidak di remehkan oleh teman-temannya. Tapi, sahabatku tipe wanita seperti ini bukanlah tipe wanita yang perlu engkau jadikan pendamping karena kebanyakan wanita jenis ini kehidupannya tidak bahagia. Karena mereka selalu merasa takut kekasihnya akan selingkuh dengan wanita lain atau mungkin dia tidak selingkuh tapi pastilah wanita kebanyakan akan memburunya. Begitulah sahabatku, jika kita memilih penampilannya saja dengan tidak melihat hatinya dikemudian hari akan berakibat sengsara. Bukankah pernah engkau mendengar syair yang berbunyi;

“Engkau menyangka pemuda kurus tidak berdaya,
padahal ia buas bagai serigala yang siap memangsa.
Engkau mengagumi pemuda yang tampak gagah,
Namun akhirnya engkau tertipu oleh penampilannya.”

Sedangkan tidaknya adalah barangkali dia belum mau mempunyai kekasih yang selalu mendampinginya. Mungkin juga dia belum mau hatinya terikat, dalam kata lain dia ingin bebas dulu. Sahabatku, berbaik sangkalah, mungkin Allah belum memberikan engkau pendamping yang engkau dambakan. Jangan berperasangka buruk, berusahalah menjadi yang terbaik suatu saat nanti Insya Allah pasti engkau akan mendapatkan wanita yang engkau cintai,” jawabnya dengan tenang dan begitu serius.

Sebenarnya aku sedikit terhibur dengan ucapan sahabatku itu, tapi jika aku mendengar kata-kata itu lagi maka hatiku akan down. “Ya sudahlah aku akan mencobanya untuk tidak mendengarkan mereka, aku akan mencoba hidup penuh optimis,” jawabku mantap. “Nah begitu dong itu baru sahabatku dan ingat jadilah engkau tuli ketika mendengar kata-kata seperti itu.” Selanya kemudia.

Akhirnya ku pun pamit kepada sahabtku itu sambil kuucapkan terima kasih atas sarannya lalu aku pun terbang dengan sedikit harapan di dadaku.